Cinta, Kehidupan, dan Kematian

Seperti halnya emosi yang teraduk ketika kehilangan seseorang yang berarti dalam hidup kita, bagaimana dengan sebuah pasangan yang sudah menjalani kehidupan bersama selama 76 tahun harus menjalani waktu-waktu bersama untuk terakhir kalinya?


Inilah yang dibawakan oleh sebuah film dokumenter asal Korea "My Love Don't Cross That River". Ketika layar memunculkan seorang Nenek yang sedang duduk dengan latar musim salju yang indah. Namun setelah itu kita akan menyadari bahwa Nenek tersebut tidak hanya sedang duduk. Ya, dia sedang menangis, bahkan meraung. Dari raungannya, kita bisa sadari bahwa dia sedang mengalami kepahitan dan rasa sakit yang entah bagaimana tidak pernah bisa kita bayangkan sebelumnya.

Setelah itu, layar akan membawa kita kembali menelusuri kehidupan sebuah pasangan tua paling romantis yang pernah kita lihat, Jo Byung-Man yang berumur 100 tahun dan Kang Kyae-Yual yang berumur 89 tahun.

Kita akan mendapati pasangan ini melakukan kelucuan-kelucuan yang biasanya hanya dilakukan oleh pasangan remaja yang sedang kasmaran. Saya yakin kalian akan tersenyum-senyum dan tertawa kecil ketika melihat mereka berdua berlempar-lemparan daun kering, bermain siram-siraman air, sampai bermain lempar-lemparan salju.

Pasangan ini dikenal sebagai “100-years-old lovebirds” dan tinggal di sebuah desa di Provinsi Gangwon. Cara mereka menyamakan pakaian tradisional bersama, berjalan perlahan melewati lansekap pedesaan yang sejuk, dan cara mereka bergandengan tangan semakin memperkuat keindahan film ini.

Namun semua berubah ketika Jo mengalami sakit keras dan bagaimana mereka berdua berjuang menghadapi hal tersebut.

Kita akan dibawa semakin dalam menuju keterpurukan dan bagaimana kesedihan meliputi saat-saat terakhir mereka. Paduan pengambilan gambar yang natural dan keindahan alam khas pedesaan ditambah lagi dengan konflik yang tidak ditutup-tutupi akan semakin mengaduk-aduk emosi kita. Scoring yang diisi dengan alunan-alunan piano sederhana menemani kita memperkirakan apa yang akan terjadi selanjutnya. 

Tidak ada yang menyangka bahwa film ini merupakan film yang sungguh berat untuk dinikmati. Tapi tidak bisa disangkal pula bahwa film ini sangat sayang untuk dilewatkan.

Inilah gambaran kejujuran yang bisa kita tangkap, bahkan dalam kesedihan sekalipun, ini adalah hal yang luar biasa. Bahwa dewasa ini, kebanyakan orang akan menghindar ketika kita membahas akhir dari kehidupannya dan bagaimana mereka akan menjalaninya. Mungkin sangat sedikit orang yang mau berbagi dan memberi akses kehidupan mereka khususnya menjelang akhir kehidupan.

Sekali lagi, ini adalah film yang mungkin tidak begitu nyaman untuk ditonton. Namun sama halnya dengan kehidupan, setiap ketidaknyamanan tersebut harus kita hadapi sebagai sebuah pembelajaran.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dua Puluh

Lovable Playlist 2015

Nyanyian Abang Becak