Nyanyian Abang Becak
Akhirnya setelah bersemedi selama kurang lebih dua bulan terakhir, hari ini muncul juga niatan untuk menambah post di blog lusuh ini. Mumpung cukup selo, bagaimana jika langsung saja kita mulai cerita ini?
"Piye ra sambat nek rego minyak mundhak koyo ngene. (Bagaimana tidak mengeluh kalau harga minyak naik terus seperti ini)" ucap Tukang Becak yang tak sengaja kulewati sepulang kuliah.
"Lha, pripun e pak? (Lha, kok begitu pak?)" tanyaku iseng sembari mengambil posisi njagong di dekat Bapak Tukang Becak tersebut.
"Ya gitu mas, simbok di rumah semakin sering bertengkar sama saya. Uangnya katanya ndak cukup buat beli lombok lah. Buat beli sandang pangan lah. Belum buat bayar kebutuhan anak-anak juga. Sampai harus pinjem-pinjem uang kemana-mana." jawab Bapak Tukang Becak tersebut.
"Memang anaknya berapa, pak?" tukasku.
"Ada empat mas. Sudah kadung keluar segitu. Kalo sudah seperti ini, ya bingung sendiri mas nyari duit buat bayar sekolahnya. Belum yang satunya lagi sakit sama yang satunya sudah mau jadi manten." jawabnya.
"Katanya gembar-gembor mau dialihkan ke pembangunan, tapi ya kita mana bisa merasakan mas. Wong cilik ya kodratnya begitu. Kalau sudah begini ya pasrah saja sama yang punya kuasa." sambungnya kembali.
"Lha nek mbecak sehari dapat berapa pak?" tanyaku kembali.
"Paling ya lima belas ribu, itu pun kalau ada penumpang. Kalau mbecaknya ndak dapat penumpang ya siap-siap diajak kelahi lagi sama simbok di rumah, hehehehe..." jawabnya sambil tersenyum pahit.
mas.
Aku pun ikut tersenyum pahit sembari akan berpamitan karena harus ada sesuatu yang kukerjakan.
"Lha ya wajar keluarnya empat. Wong tiap pulang diajak kelahi gitu." gumamku dalam hati.
*) Digubah secara bebas dari Puisi Wiji Thukul yang berjudul Nyanyian Abang Becak, Solo 1984
"Piye ra sambat nek rego minyak mundhak koyo ngene. (Bagaimana tidak mengeluh kalau harga minyak naik terus seperti ini)" ucap Tukang Becak yang tak sengaja kulewati sepulang kuliah.
"Lha, pripun e pak? (Lha, kok begitu pak?)" tanyaku iseng sembari mengambil posisi njagong di dekat Bapak Tukang Becak tersebut.
"Ya gitu mas, simbok di rumah semakin sering bertengkar sama saya. Uangnya katanya ndak cukup buat beli lombok lah. Buat beli sandang pangan lah. Belum buat bayar kebutuhan anak-anak juga. Sampai harus pinjem-pinjem uang kemana-mana." jawab Bapak Tukang Becak tersebut.
"Memang anaknya berapa, pak?" tukasku.
"Ada empat mas. Sudah kadung keluar segitu. Kalo sudah seperti ini, ya bingung sendiri mas nyari duit buat bayar sekolahnya. Belum yang satunya lagi sakit sama yang satunya sudah mau jadi manten." jawabnya.
"Katanya gembar-gembor mau dialihkan ke pembangunan, tapi ya kita mana bisa merasakan mas. Wong cilik ya kodratnya begitu. Kalau sudah begini ya pasrah saja sama yang punya kuasa." sambungnya kembali.
"Lha nek mbecak sehari dapat berapa pak?" tanyaku kembali.
"Paling ya lima belas ribu, itu pun kalau ada penumpang. Kalau mbecaknya ndak dapat penumpang ya siap-siap diajak kelahi lagi sama simbok di rumah, hehehehe..." jawabnya sambil tersenyum pahit.
mas.
Aku pun ikut tersenyum pahit sembari akan berpamitan karena harus ada sesuatu yang kukerjakan.
"Lha ya wajar keluarnya empat. Wong tiap pulang diajak kelahi gitu." gumamku dalam hati.
*) Digubah secara bebas dari Puisi Wiji Thukul yang berjudul Nyanyian Abang Becak, Solo 1984

Komentar
Posting Komentar