Memori
Lagi-lagi ini.
Sherlock..
Sebuah kisah tentang manusia superior.
Tidak.. bukan superior.
Manusia yang mampu memanfaatkan kemampuan pikiran secara maksimal. Istana memori. Ya... istana memori.
Itu mengapa mereka menayangkannya sembari orang-orang menunggu. Orang suka menonton kisah orang lain. Apalagi yang memiliki kemampuan di luar nalar manusia. Teori ini aku simpulkan dengan mengamati beberapa sampel dan pengalaman pribadi.
Sejak kecil, tidak kecil-kecil amat sih. Mungkin seusia anak mampu memahami kisah-kisah misteri detektif, Sherlock sudah menjadi bagian dari mimpiku. Walaupun tidak secara sepenuhnya ingin persis menjadi dia juga, mengingat wataknya yang keras dan anti-sosial.
Sherlock juga pernah menjadi memori khusus ketika aku duduk di bangku sekolah. Ketika bibit-bibit cinta monyet tumbuh subur di antara teman-teman sekelas.
Aku tau namanya. Aku juga tau dia tinggal dimana. Tapi aku tidak pernah benar-benar mengenalnya.
Jam pelajaran Bahasa Indonesia dimulai. Guru menugaskan untuk para siswa agar menceritakan pengalamannya masing-masing ketika libur akhir semester kemarin. Namanya dipanggil pertama. Dia maju dengan tubuhnya yang tidak terlalu tinggi dan rambutnya yang sebahu. Dia mulai bercerita, tentang kisahnya mengumpulkan novel-novel detektif sewaktu liburan. Kalian pasti tau kan siapa detektifnya?
Ya.. Sherlock.
"Sekali lagi saya ulangi ya anak-anak, Sher-lock." ucap guru kepada anak-anak yang masih bergurau sendiri.
Sejak saat itu aku memutuskan untuk memberanikan diri. Tidak boleh terus-terusan seperti ini, toh kesempatan tidak selalu datang berkali-kali. Kecuali kalau anda beruntung.
Sepulang sekolah kuberanikan untuk menyapa, "Hai-"
[TING-TONG]
"Atas nama bapak Aan."
"Iya saya."
"Terima kasih sudah menunggu bapak, silahkan menuju ke bilik tiga."
Kugandeng wanita di sebelahku menuju bilik tiga.
"Kita nanti ngopy serial Sherlock aja ya gak usah nonton di sini. Mahal nanti kalo nonton di sini."
"Iya iya."
Sembari menunggu proses memindah beberapa file serial Sherlock, aku duduk dan mulai mengingat sesuatu.
Jadi... nostalgianya sudah sampai mana tadi?

Komentar
Posting Komentar